M
Kembali ke Beranda
Berita Terbaru

Kajian Ahad Pagi Perdana Bulan Syawal, Ustadz Solihin Fanani Bahas Peningkatan Ibadah Pasca Ramadan sebagai Bukti Cinta kepada Allah

Administrator
30 March 2026 624x Dibaca
Kajian Ahad Pagi Perdana Bulan Syawal, Ustadz Solihin Fanani Bahas Peningkatan Ibadah Pasca Ramadan sebagai Bukti Cinta kepada Allah

PWMU.CO - Pengajian Ahad Pagi K.H. Ahmad Dahlan PDM Kota Batu yang dirangkaikan dengan halal bihalal keluarga besar Muhammadiyah Kota Batu dilaksanakan di Masjid At-Taqwa Kota Batu pada Ahad, 29 Maret 2025. Pemateri dalam kajian tersebut adalah Ustadz Dr. H. M. Sholihin Fanani, M.PSDM., Wakil Ketua PWM Jawa Timur. Tema yang diangkat adalah peningkatan ibadah pasca Ramadan sebagai bukti cinta kepada Allah.

Mengawali kajian, Ustadz Sholihin menyampaikan bahwa tanda iman seseorang semakin kuat adalah semakin bertambah keyakinannya terhadap agama Allah SWT dan semakin rajin dalam beribadah. Hal ini ditunjukkan dengan sikap istiqamah dalam menjalankan ketaatan.

“Tanda Allah memberikan nikmat iman adalah ‘tambah suwe tambah yakin, tambah suwe tambah rajin’, itu tandanya,” ujarnya dengan mantap.
Beliau juga menyampaikan empat nasihat terakhir Rasulullah saw., yaitu: (1) bertakwa kepada Allah, (2) berpegang teguh pada sunah Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin, (3) mendengar dan taat serta saling menasihati, dan (4) menjauhi segala bentuk bid’ah.

Adapun ciri-ciri orang yang bertakwa kepada Allah antara lain: (1) senantiasa mengingat Allah melalui doa-doa dalam setiap aktivitas yang diajarkan Rasulullah, (2) berusaha berubah menjadi lebih baik, terutama dalam sikap karena sikap menentukan arah kehidupan, serta (3) memiliki akhlak yang baik dalam berinteraksi dengan sesama manusia.

Menurut Ustadz Solihin, takwa juga bermakna taat dan memberikan manfaat bagi orang lain. Islam sebagai agama yang sempurna mengajarkan kebenaran dan keadilan yang tidak dapat diubah oleh siapa pun. Untuk menjalankan agama secara sempurna, terdapat empat hal yang perlu diperhatikan, yaitu: (1) berhati-hati terhadap perkara halal dan haram, (2) mau mendengar dan saling menasihati, (3) ta’awun atau saling tolong-menolong, dan (4) melaksanakan amar makruf nahi mungkar.

Sementara itu, hakikat puasa menurut Rasyid Ridha meliputi: (1) tarbiyatul iradat (pendidikan kehendak), (2) thariqatul malaikat (meneladani jalan malaikat), (3) tarbiyatul ilahiyat (pendidikan ketuhanan), dan (4) tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Hal ini penting karena nafsu manusia cenderung mengarah pada hal-hal yang kurang baik. Nafsu manusia terbagi menjadi empat, yaitu: nafsu kebaikan (rububiyah), nafsu kesombongan (syaithaniyah), nafsu kebinatangan (bahimiyah), dan nafsu kebuasan (subuiyah).

Adapun cara mengenal Allah dapat dilakukan dengan: (1) menjadikan Allah sebagai satu-satunya sesembahan, (2) menjadikan Allah sebagai satu-satunya penolong, serta (3) mengenal nama dan sifat-sifat-Nya.
Beliau juga menegaskan bahwa siapa pun yang menolong agama Allah dan taat kepada-Nya akan mendapatkan pertolongan serta derajat yang tinggi dari Allah Swt.

Selain itu, disinggung pula tentang fitrah manusia yang meliputi empat hal, yaitu: (1) sebagai hamba Allah (abdullah), (2) sebagai pemimpin di bumi (khalifatullah), (3) memiliki naluri bertuhan, dan (4) mendapatkan bimbingan melalui rasul atau pemimpin.

Di akhir kajian, disampaikan pula pentingnya bermaaf-maafan, terutama pada hari Idulfitri. Uruannya adalah istri kepada suami (san sebaliknya), anak kepada orang tua, kemudian bermaafan kepada tetangga dan sesama. (Khoen Eka/Co Editor)
Bagikan artikel ini:

Diskusi & Tanggapan (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama berkomentar!