M
Kembali ke Beranda
Berita Terbaru

Fajar yang Pudar : Saat Harta Menjadi Tuhan dan Manusia Lupa pada Kemanusiaan (Tadabbur Surat Al-Fajr ayat 15-20)

Administrator
18 January 2026 616x Dibaca
Fajar yang Pudar : Saat Harta Menjadi Tuhan dan Manusia Lupa pada Kemanusiaan (Tadabbur Surat Al-Fajr ayat 15-20)
Di antara denting koin emas dan gemerlap pasar, ada sebuah kisah yang diulang peradaban. Seorang manusia, tatkala rezekinya melimpah, memandang langit dengan angkuh. “Lihatlah,” bisiknya pada diri sendiri, “Tuhanku telah memuliakanku.” Lalu, ketika kesempitan hidup datang merenggut, wajahnya berkerut penuh tanya. “Mengapa,” gerutunya, “Apakah Tuhanku hendak menghinakanku?”

Potret jiwa yang rapuh ini, yang diabadikan dalam Surah Al-Fajr, bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah cermin retak di hadapan kita semua. Kita telah mengukir standar kemuliaan dari batu pualam kekayaan, dan mengukur kehinaan dari angka-angka di rekening bank. Kita terperangkap dalam ilusi: bahwa gelimang materi adalah bukti kasih Tuhan, dan keterbatasan adalah tanda murka-Nya. Inilah materialisme jahiliyah yang tak lekang zaman—sebuah penyakit hati yang mengubah berkah menjadi ujian terselubung.

Lalu Al-Qur’an menampar kesadaran kita dengan sebuah “kallaa!”—sekali-kali tidak! Bukan begitu cara kerja kehidupan. Kemuliaan sejati bukanlah apa yang kau kumpulkan, melainkan apa yang kau berikan.

Lihatlah, peradaban yang sakit adalah peradaban yang meninggalkan tangis anak yatim tak terjawab. Di mana senyuman mereka terampas, bukan hanya oleh hilangnya orang tua, tetapi oleh dinginnya hati yang tak lagi mau memuliakan. Ia adalah peradaban di mana perut orang miskin keroncongan, sementara piring-piring kita penuh berlebihan, tanpa ada satu pun ajakan untuk berbagi. Kita sibuk meng-upload kemewahan, tetapi mematikan notifikasi penderitaan. Inilah wajah materialisme: individualisme yang membeku.

Dan penyakit ini semakin parah. Kita bukan hanya lalai, kita menjadi predator. Kita “memakan harta warisan dengan rakus,” melahap apa saja tanpa batas. Warisan alam dieksploitasi sampai tandus, hak-hak sosial dilindas demi margin keuntungan, bahkan nilai-nilai kemanusiaan diperdagangkan. Semua dicampur aduk, yang halal dan haram menjadi kabur, asal tujuan tercapai: penumpukan modal.

Di puncaknya, ada sebuah kecintaan yang mengerikan: “Wa tuhibbunal mala hubban jamma”—kita mencintai harta dengan cinta yang melimpah ruah, berlebihan, hingga menjadikannya ilah (tuhan) baru. Harta bukan lagi alat, ia telah menjadi tujuan. Ia bukan lagi sarana hidup baik, ia telah menjadi definisi hidup itu sendiri. Inilah jahiliyah modern: ketika harga diri, kebahagiaan, dan status sosial semata-mata ditukar dengan kurs mata uang.

Lalu, di manakah cahaya fajar itu?

Cahaya fajar akan terbit tatkala kita membalikkan logika ini. Ketika kita menyadari bahwa ujian sebenarnya justru ada pada saat kita diberi, bukan saat kita dikurangi. Kekayaan adalah ujian tanggung jawab yang jauh lebih berat daripada kemiskinan. Kemuliaan sejati terletak pada seberapa besar kita menjadi saluran rezeki bagi yang lain, bukan seberapa mahir kita menjadi bendungan yang menahannya.

Mari kita berhenti sejenak.Di tengah deru ekonomi yang memuja pertumbuhan tanpa batas, tanyakan pada hati: Sudahkah kita membangun peradaban yang manusiawi, atau hanya membangun menara gading untuk diri sendiri? Anak yatim dan orang miskin itu bukan hanya statistik; mereka adalah ujian hidup kita yang paling nyata. Mereka adalah cermin yang memantulkan hakikat jiwa kita—apakah kita masih memiliki fajar kemanusiaan, atau telah tenggelam dalam malam yang kelam oleh cinta kita pada harta?

Fajar (Al-Fajr) sejati adalah saat kesadaran itu terbit. Saat kita memahami bahwa keadilan sosial dan kepedulian adalah fondasi peradaban yang kokoh. Saat kita berani mengatakan pada dunia: “Kemuliaanku tidak diukur oleh apa yang aku miliki, tetapi oleh apa yang aku berikan untuk memuliakan sesama.”

Bangunlah, sebelum fajar itu benar-benar berlalu, dan kita hanya menyisakan penyesalan di balik tumpukan harta yang tak bermakna. (Wallahu a'lam)...
MPID KOTA BATU/Syarif/SekumPDM
Bagikan artikel ini:

Diskusi & Tanggapan (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama berkomentar!